PD Bina Usaha: Cermin Buram Tata Kelola Perusahaan Daerah Aceh Utara
![]() |
Gambar ilustrasi |
Di banyak daerah, keberadaan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD)
menjadi tumpuan strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, membuka lapangan
kerja, dan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Namun, realitas di Aceh
Utara justru memperlihatkan gambaran sebaliknya. PD Bina Usaha, satu-satunya perusahaan
milik Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, kini menjelma menjadi simbol bagaimana
lembaga publik kehilangan makna akibat buruknya tata kelola.
Alih-alih menjadi lokomotif ekonomi rakyat, PD Bina Usaha
malah menjelma sebagai entitas tanpa wajah—tidak terlihat dampaknya, tak
transparan pengelolaannya, dan menyisakan banyak tanda tanya: siapa yang
mengendalikan perusahaan ini, dan untuk kepentingan siapa ia dijalankan?
Perusahaan yang Mati
dalam Diam
Sejak lama, masyarakat Aceh Utara nyaris tak pernah
mendengar kabar tentang aktivitas PD Bina Usaha. Tidak ada laporan tahunan.
Tidak jelas unit usaha apa yang dimiliki. Bahkan, sebagian warga tak tahu di
mana kantor pusatnya berada.
Padahal, BUMD idealnya hadir sebagai manifestasi semangat
kemandirian ekonomi lokal—terlibat dalam sektor vital seperti pengelolaan aset,
distribusi logistik, hingga pengembangan kawasan ekonomi. Namun kenyataan di
lapangan memperlihatkan kekosongan fungsi dan arah.
Bukan Titipan
Politik, Tapi Dugaan Komersialisasi Jabatan
Berbeda dari daerah lain yang terjebak dalam pola balas jasa
politik, masalah utama PD Bina Usaha di Aceh Utara lebih condong pada dugaan
komersialisasi jabatan. Perusahaan ini diduga kuat telah menjadi alat cari
untung pribadi oleh segelintir pihak yang menjadikannya sebagai “ladang
diam-diam”.
Pengelolaan keuangan tidak pernah transparan. Tidak ada
audit publik. Informasi soal aset, aliran dana, hingga rekam jejak bisnis
pengurus tak pernah diumumkan. Sistem operasional perusahaan pun nyaris tak
terdengar. Yang tampak hanyalah bayangan konflik kepentingan dan pelanggengan
kekuasaan tertutup.
Pertanyaannya wajar
dan penting:
Untuk siapa sebenarnya PD Bina Usaha bekerja—untuk rakyat
atau untuk elite?
Dampaknya Tak Bisa
Diabaikan
BUMD yang mati suri bukan hanya simbol pemborosan
kelembagaan, tetapi juga menandai pembusukan moral birokrasi. Walaupun tidak
lagi disuntik dana dari APBK, PD Bina Usaha tetap mengelola sejumlah aset
daerah, termasuk penyewaan lahan di depan pendopo, retribusi lainnya, dan
fasilitas publik yang seharusnya bisa menopang PAD.
Namun, hingga kini, tak ada laporan bahwa hasil pengelolaan
itu masuk sebagai pendapatan resmi daerah. Bahkan, menurut berbagai sumber,
gaji karyawan pun bermasalah. Rakyat hanya bisa jadi penonton, sementara tanpa
transparansi tentu membuka peluang praktik menyimpang: mark-up biaya
operasional, manipulasi aset, hingga korupsi yang tak terpantau.
Ayah Wa, Saatnya
Memilih Jalan Reformasi
Di bawah kepemimpinan Ayah Wa, publik menyaksikan perubahan
gaya komunikasi. Media sosial dijadikan sarana interaksi langsung antara
pemimpin dan rakyat. Tapi reformasi tidak bisa berhenti di konten TikTok atau
citra digital. Dibutuhkan keberanian struktural untuk membongkar praktik masa
lalu dan membangun ulang tata kelola yang akuntabel.
Ayah Wa punya peluang membuktikan bahwa pemerintahannya
bukan sekadar gaya, tetapi juga punya isi. Kesempatan ini tak akan datang dua
kali.
Langkah Mendesak yang
Harus Diambil
1. Audit total PD Bina Usaha oleh auditor independen, dan
hasilnya diumumkan ke publik.
2. Publikasi struktur organisasi dan laporan keuangan
tahunan, termasuk siapa pengurusnya, apa bidang usahanya, dan bagaimana
kinerjanya.
3. Evaluasi menyeluruh terhadap kinerja perusahaan sejak
berdiri: apakah masih layak dipertahankan atau justru perlu dibubarkan?
4. Penegakan hukum terhadap temuan pelanggaran atau
penyalahgunaan wewenang.
5. Transformasi kelembagaan ke arah profesionalisme dan
meritokrasi.
6. Desakan kepada Kejaksaan Negeri Aceh Utara untuk
menyelidiki nota keuangan dan praktik pengelolaan dana di dalam perusahaan ini.
Antara Harapan dan
Kegagalan
PD Bina Usaha adalah cermin buram dari cara kita mengelola aset
publik. Ia bisa menjadi simbol kegagalan tata kelola masa lalu, atau
sebaliknya, titik balik menuju model pemerintahan yang transparan dan berpihak
pada kepentingan rakyat.
Kini tinggal satu pertanyaan. Beranikah Ayah Wa membuka isi
dapur PD Bina Usaha?
Atau akan dibiarkan sebagai ‘perusahaan hantu’, hidup di atas kertas, tapi mati dalam
kenyataan.
Sejarah akan mencatat. Dan rakyat sedang mengamati!
*) Penulis: Sofyan, S.Sos adalah pemerhati sosial politik
0 Komentar