Fahri Hamzah Jadi Pembicara Diskusi Lintas Pemuda Kota Lhokseumawe

Fahri Hamzah menjadi pembicara daring melalui zoom meeting bersama sejumlah pembicara lainnya dalam diskusi yang dilaksnakan oleh Partai Gelora Lhokseumawe, di Lhokseumawe. Minggu (25/10/2021). (Amrizal Abe)

Lhokseumawe | Acehcorner.com - Mantan Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah menjadi pembicara dalam kegiatan diskusi lintas pemuda kota Lhokseumawe pada minggu (24/10/2021). Diskusi tersebut diselenggarakan oleh Partai GELORA Lhokseumawe dalam rangka Milad ke-2 partai dan menyambut peringatan sumpah pemuda.

Diskusi yang mengangkat tema “menakar arah dan kontribusi pemuda menuju kekuatan lima besar dunia” tersebut dihadiri oleh organisasi kepemudaan se-kota Lhokseumawe. Fahri Hamzah menjadi pembicara daring melalui zoom meeting bersama dengan Azhari T. Ahmadi dari Partai Aceh, Teuku Kemal Fasya dari Universitas Malikussaleh, Lailan Fajri dari Tanda Seru Indonesia dan M. Agam Khalilullah dari unsur KNPI Lhokseumawe.

Ketua Partai Gelora Lhokseumawe, Khalid Ashim menyampaikan tujuan diskusi kepemudaan sebagai pemantik diskusi selanjutnya. “Kita berusaha merangkul semua elemen kepemudaan, karena narasi perubahan hanya bisa dilakukan bila kaum muda solid dan kompak”, ujar mantan Presma Unsyiah tersebut.

Anggota DPRK Lhokseumawe Azhari T. Ahmadi yang menjadi pembicara dalam diskusi tersebut mengharapkan agar organisasi kepemudaan dapat bersinergi sebagai mitra pemerintah. “Peranan pemuda sangat dibutuhkan dalam memberi masukan terkait persoalan sosial dan ekonomi, berikan masukan konstruktif sehingga sinergi dengan Pemko dalam pembangunan” ungkapnya.

Sementara itu sosiolog Universitas Malikussaleh Teuku Kemal Fasya membahas konsitensi kaum muda dalam menularkan semangat perubahan selaku agent of change. “Generasi milenial bisa memanfaatkan sosial media untuk menyebarkan semangat perubahan, kaum muda juga punya potensi suara dalam pemilu, partai politik mulai melirik kalangan muda sebagai pemilih pemula yang potensial” jelasnya.

Pembicara utama Fahri Hamzah memaparkan empat unsur yang harus dimiliki pemuda yaitu narasi, jaringan kerja, kepemimpinan dan inisiatif. Lebih lanjut ia menguraikan siklus perubahan dua puluh tahunan di Indonesia dimana setiap dua dasawarsa terjadi perubahan model kepemimpinan.

“Kita telah melalui siklus dua puluh tahun paska reformasi, harapan perubahan ada ditangan pemuda, kaum milenial jangan alergi dengan politik karena politik adalah saluran konstitusional melakukan perubahan” urainya.

Salah satu peserta diskusi dari BKPRMI Lhokseumawe, Taufiq Mahmud yang mendapat kesempatan berinteraksi dengan Fahri Hamzah menyampaikan harapannya agar kegiatan diskusi seperti ini terus berlanjut. Menurutnya kegiatan diskusi lintas pemuda harus mampu melahirkan rekomendasi bagi pemerintah. “Diskusi adalah bagian dari budaya literasi, perubahan selalu diawali dengan narasi kaum muda, tapi jangan berhenti disitu, harus ada aksi nyata, bukan hanya bicara cita-cita tanpa kerja nyata” harap akademisi IAIN Lhokseumawe itu.

Sementara itu, praktisi SDM Lailan Fajri lebih menitikberatkan pada pengembangan soft-skill. Berdasarkan data BPS, persentasi kaum milenial lebih dari 26%. Potensi ini harus disadari oleh kaum milenial karena daya ungkitnya yang tinggi. Bonus demografi harus mampu dimanfaatkan untuk melejitkan potensi, pemuda bisa menggarap bidang wirausaha maupun politik.

“Potensi ini harus disadari kaum milenial, perubahan butuh pemuda yang partisipatif dan mau serta mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, saat ini kita tidak lagi berbicara lokal saja, dengan perkembangan teknologi pemuda harus membuka diri karena status kita sekarang adalah warga dunia” pungkasnya. (Amrizal Abe)

 


 

0 Komentar

https://www.olg.link/