Jejak Tahu di Buket Hagu

Ibu Sari (49), salah seorang pembuat tahu tradisional di Buket Hagu (Amrizal Abe) 

Aceh Utara|Acehcorner.com - Jalan terjal berbatu meliuk-liuk, naik dan turun. Membelah belantara sawit menjadi saksi perjalanan kami menuju Desa Buket Hagu, Kecamatan Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara, hari Rabu (22/9/2021).

Saya bersama tiga teman lainnya harus berjuang melawan terik matahari, membakar kulit hingga memerah. 

Kami tiba di Pajak Buket Hagu sekitar pukul 10.30 WIB. Pajak sebutan masyarakat lokal untuk mengganti kata -pasar- di daerah itu. Pasar itu digelar sehari dalam sepekan. Saat itu terlihat suasana sedikit sepi.

Keuchik Desa Buket Hagu, Samsul Arifin menyambut kedatangan kami di salah satu warung dalam kompleks pajak itu. Samsul pula kami minta untuk mengantarkan ke lokasi pembuatan tahu yang populer di desa itu.

Sejurus kemudian kami tiba di lokasi pembuatan tahu. Di sana bukan sebatas tahu, tapi juga diproduksi tempe dan rempeyek berbahan baku kedelai.

“Tahu sudah puluhan tahun di sini. Dibawa oleh masyarakat suku Jawa saat transmigrasi ke Aceh,” kata Samsul.

Sejarah sesungguhnya, tahu datang dari Tiongkok. Diambil dari bahasa suku Hokkian “Tauhu” yang berarti kedelai terfermentasi.

Ucapan Samsul ada benarnya. Desa itu mayoritas dihuni suku Jawa. Transmigrasi tahun 1977. Mereka turun temurun mengembangkan tahu sebagai sajian umum untuk penganan warga. Saat ini tercatat 850 kepala keluarga menetap di enam dusun desa itu.

Untuk menuju desa ini, maka gunakanlah lajur dari Jalan Medan – Banda Aceh. Setiba di pertigaan Simpang Cot Girek, beloklah ke kiri dan ikuti lurus jalan aspal itu sampai patok 4 kemudian belok kiri lagi sampai jalan mendaki. Jaraknya sekitar 15 kilometer dari Lhoksukon, Ibukota Kabupaten Aceh Utara. Barulah kita tiba di desa penghasil tahu, tempe dan rempeyek ini.

Salah satu dari kami mencicipi tahu itu. Rasanya lembut di lidah. “Kalau tahu buatan suku Jawa itu terasa berbeda di lidah. Suku Aceh juga ada bikin tahu. Tapi kalau produksi suku Jawa, rasa tahu itu lembut,” sebut Sahibul, penikmat kuliner yang ikut dalam rombongan kami.

Di sini, pria bekerja di kebun, dan kaum ibu bekerja memproduksi tahu. Penambah keuangan keluarga.

Sari (49) pekerja pembuat tahu yang kami temui menyebutkan bahan baku kedelai mereka beli dari distributor di Lhoksukon, Aceh Utara.

                                                         Ibu Sari menunjukkan tahu buatannya kepada penulis (Amrizal Abe)

Selanjutnya sore hari kedelai dibersihkan, direndam semalam suntuk. Jam enam pagi kedelai digiling kemudian direbus sampai mendidih lalu disaring diambil santannya. Diaduk dengan campuran cuka untuk proses fermentasi sampai mengendap menjadi tahu. Lalu apabila sudah selesai dicetak, dipotong dengan ukuran tertentu dan siap dipasarkan.

Tahu ini dijual hanya di kawasan Aceh Utara dan sekitarnya. Namun, Sari mengeluh sulit membawa tahu ke pasar-pasar tradisional di Aceh Utara, salah satunya di Lhoksukon.

Jalanan yang rusak parah membuat mereka susah payah mengangkut tahu itu ke sentral perdagangan. “Apabila jalan sudah bagus, waktu tempuh lebih singkat, sekarang butuh waktu setengah jam untuk turun ke Pasar Lhoksukon, itupun kalau tidak hujan”, ungkap Samsul diamini Sari.

Jarum jam menujukan pukul 16.07 sore. Di langit awan mulai gelap. Sedikit muram tanda tak lama lagi hujan akan turun.

Kami pun bergegas meninggalkan pabrik tahu itu. Dilepas dengan senyum ikhlas Sari dan Samsul Arifin. Dua warga lokal yang terus berjuang mengembangkan tahu sebagai penganan dari generasi ke generasi. (Amrizal Abe)


 

1 Komentar

https://www.olg.link/