“Iblis Lebih Senang Wafat Ulama daripada 70 ‘Abid”

Tgk. Helmi Abu Bakar el-Langkawi. (Dok. Istimewa)


Oleh Tgk. Helmi Abu Bakar el-Langkawi*

Hal ini sebagaimana hadis berbunyi, “al-’Ulama Waratsatil Anbiya (ulama adalah pewaris para Nabi).”Allah SWT menciptakan manusia sebagai khalifah di bumi ini. Keberadaan khalifah mempunyai visi dan misi dalam memajukan dinul Islam. Kemajuan Islam tidak terlepas dari perannya para ulama sebagai warisatul ambiya (pewaris nabi).

Menurut Syekh Ibnu Hajar, hadis tersebut juga diperkuat oleh ayat dalam Alquran berbunyi, “Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba kami”. (QS. Fathir/35: 32).

Al-Imam Asy-Syaukani berpendapat bahwa Allah telah menentukan cara mewariskan kitab ini kepada para ulama dari umat Muhammad SAW dan tidak ada keraguan bahwa ulama umat ini adalah para sahabat dan orang-orang setelah mereka.

Para ulama mewarisi ilmu, bukan harta dan jabatan. Ini dipertegas dalam hadis berbunyi, “Barangsiapa meniti jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan mempermudah jalannya ke surga. Sungguh, para malaikat merendahkan sayapnya sebagai keridaan kepada penuntut ilmu. Orang yang berilmu akan dimohonkan ampunan oleh penduduk langit dan bumi hingga ikan yang ada di dasar laut. Kelebihan seorang alim dibanding ahli ibadah seperti keutamaan rembulan pada malam purnama atas seluruh bintang. Para ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang banyak”. (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ad-Darimi).

Salah seorang ulama nusantara yang terkenal Quraish Shihab dalam memaparkan pengertian ulama sebagai pewaris nabi, menyebutkan bahwa yang disebut ulama adalah orang yang mempunyai pengetahuan kauniyyah (fenomena alam) dan qur’aniyyah. Kapasitas dan ketokohan para ulama yang mempunyai pengetahuan kauniyyah dan qur’aniyyah adalah ulama yang selalu memikirkan penciptaan langit dan bumi agar bertasbih kepada Allah.

Firman Allah, “Sebenarnya, Alquran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim”. (QS. al-‘Ankabut:29:49).

Selanjutnya sosok ulama pewaris para nabi diartikan oleh al-Mawardi, bahwa mereka (ulama) kedudukan dalam agama setingkat dengan nabi. Yaitu ulama yang terdidik dengan etika para nabi, dan tidak menuntut sesuatu kepada manusia dalam menebarkan ilmunya. Dengan demikian maka ulama pewaris nabi, adalah para ulama yang mempunyai ilmu kauniyyah dan qur’aniyyah, juga mempunyai perilaku yang mendekati kepada perilaku nabi dalam arti lain memahami, menguasai dan bisa mengamalkan sunah-sunah nabi.

Saat ini kita hidup di era millennial, bahkan jelang akhir tahun 2020 dan awal 2021 tidak sedikit para ulama di negeri kita meninggal dunia. Kondisi seperti ini adalah masa di mana sangat persis dengan apa yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam pada saat menjelaskan tentang ciri-ciri akhir zaman. Salah satu dari tanda dekatnya hari kiamat adalah diangkatnya ilmu dan semakin jauhnya akhlak sehingga manusia berada dalam kegelapan dan kebodohan.

“Termasuk tanda-tanda hari kiamat adalah diangkatnya ilmu dan tetapnya kebodohan. (HR. Bukhari)

Meninggalnya para ulama sebagai pewaris nabi merupakan salah satu cara Allah SWT mencabut ilmu dari muka bumi sehingga penyebaran ilmu terhenti, pemahaman umat terhadap kedalaman ilmu semakin berkurang, dan keteladanan sikap serta perbuatan semakin jauh dari umat. Sehingga mereka mendapatkan ilmu bukan dari guru secara langsung melainkan dari media, internet.

Dengan meninggalnya ulama berarti kualitas ilmu telah diangkat oleh Allah, sehingga yang tersisa bukanlah ilmu, melainkan sebatas aksesorisnya semata. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya, akan tetapi Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan”. (HR. Bukhari)

Wafatnya ulama adalah matinya alam semesta. Istilah ini seringkali diucapkan orang-orang untuk menggambarkan bencana karena kepergian seorang ulama. Betapa tidak, melalui lisan merekalah risalah dakwah Rasulullah Muhammad Saw tersebar hingga kini. Ketika seorang ulama wafat, seolah-olah alam semesta juga mati. Karena para ulama wafat membawa ilmu berupa cahaya yang menerangi hati manusia. Ilmu itulah yang pada akhirnya mampu membedakan manusia dengan makhluk lainnya.

Allah Swt tidak mencabut ilmu begitu saja dari pikiran dan hati seseorang. Kepunahan ilmu justru terjadi karena wafatnya para ulama. Sebab, ketika wafat, para ulama turut membawa segenap ilmunya.

Ibnu Hajar Al-Atsqalani dalam Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari menyatakan, maksud dari hadis ini adalah anjuran belajar dan mengajarkan ilmu. Hal ini karena ilmu tak hilang kecuali karena wafatnya ulama. Selama ada orang yang mempelajari ilmu, maka ilmu tak akan hilang dari muka bumi.

Masih dalam kitab yang sama, Ibnu Mundzir berkata, “Hilangnya ilmu dari dada seseorang bisa saja terjadi atas kehendak Allah, namun hadis ini menyatakan itu tidak terjadi (karena mengandung makna lainnya).”

Dalam riwayat lainnya disebutkan Rasulullah Saw bersabda, “Kematian ulama adalah musibah yang tak tergantikan, sebuah kebocoran yang tidak bisa ditambal. Wafatnya ulama laksana bintang yang padam. Meninggalnya satu suku lebih mudah bagiku daripada meninggalnya satu orang ulama.” (HR. Al-Baihaqi)

Fenomena yang terjadi dalam masyarakat, saat para pemimpin baik presiden, gubernur, bupati hingga kepala desa telah tiada atau habis masa jabatannya, para calon penggantinya bertaburan. Namun, ketika para ulama meninggal tidak semudah seperti menggantikan para pemimpin.

Ketika satu ulama berpulang ke pangkuan Ilahi, memang akan ada generasi berikutnya yang menjadi pengganti. Akan tetapi tetap saja tidak dalam karakter dan tingkat keilmuan yang setara serta sebanding, terlebih kharismanya.

Ulama sebagai cahaya dunia ini, tatkala telah tiada, para musuh agama termasuk iblis dan bala tentaranya tentu sangat merasakan kebahagian dan visi-misi mereka sedikit lebih mudah dengan hilangnya para ulama.

Imam Baihaqi dari hadis Ma’ruf bin Kharbudz dari Abu Ja’far radhiallahu ‘anhu berkata, “Kematian ulama lebih dicintai iblis daripada kematian 70 orang ahli Ibadah (‘Abid).”

Alquran secara implisit mengisyaratkan wafatnya ulama sebagai sebuah penyebab kehancuran dunia. Firman Allah, “Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah, lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya?” (Al-Ra’d: 41).

Sementara itu menurut beberapa ahli tafsir seperti Ibnu Abbas dan Mujahid, ayat ini berkaitan dengan kehancuran bumi (kharab ad-dunya). Sedangkan kehancuran bumi dalam ayat ini adalah dengan meninggalnya para ulama (Tafsir Ibnu Katsir 4/472).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menegaskan ulama sebagai penerusnya, juga menegaskan wafatnya para ulama sebagai musibah. Rasulullah bersabda, “Meninggalnya ulama adalah musibah yang tak tergantikan, dan sebuah kebocoran yang tak bisa ditambal. Wafatnya ulama laksana bintang yang padam. Meninggalnya satu suku lebih mudah bagi saya daripada meninggalnya satu orang ulama” (HR. al-Thabrani dalam Mujam al-Kabir dan al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman dari Abu Darda’).

Umat manusia dapat hidup bersama para ulama adalah sebagian nikmat yang agung selama di dunia. Semasa ulama hidup, kita dapat mencari ilmu kepada mereka, memetik hikmah, mengambil keteladanan dan sebagainya. Sebaliknya, ketika ulama wafat, maka hilanglah semua nikmat itu. Dalam Kitab Tanqih al-Qaul, Imam Jalaluddin As-Suyuthi menuliskan sebuah hadis Rasulullah SAW yang berbunyi, “Barangsiapa yang tidak sedih dengan kematian ulama maka dia adalah munafik.”

Beranjak dari itu, kita bisa mengambil hikmah dan iktibar dari wafatnya para ulama di Indonesia. Kepergian ulama merupakan duka bagi umat Islam. Semoga Allah Ta’ala memuliakan para ulama, mengampuni segala dosanya dan mengangkat mereka ke tempat terpuji bersama Rasulullah SAW dan shiddiqin dan shalihin.

Kendatipun kini telah banyak ulama yang wafat, harapan kita lahirnya kembali ulama yang meneruskan perjuangannya. Harapan ini sebagaimana dikutip oleh Imam al-Ghazali dari Khalifah Ali bin Abi Thalib: “Jika satu ulama wafat, maka ada sebuah lubang dalam Islam yang tak dapat ditambal kecuali oleh generasi penerusnya”. (Ihya Ulumiddin I/15). Amin.

Wallahu Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq. []

*Tgk. Helmi Abu Bakar el-Langkawi, Guru Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga, Dosen IAI Al-Aziziyah Samalanga, dan Ketua PC Ansor Pidie Jaya.

 

0 Komentar

https://www.olg.link/