Acehcorner.com - Investor ternama sekaligus salah satu orang terkaya di dunia, Warren Buffett mengungkapkan lima kebiasaan finansial yang membuat orang tetap miskin.
Dikutip dari Forbes, Rabu (16/7/2025), CEO Berkshire
Hathaway Inc. tersebut saat ini mempunyai total kekayaan sebesar 141,1 miliar dollar
AS atau Rp 2.305 triliun.
Kekayaan tersebut membuat sosok yang dikenal sebagai “Oracle
of Omaha” itu menjadi orang terkaya ke-10 di dunia saat ini.
Lantas, apa saja lima kebiasaan yang buat orang tetap miskin
menurut Warren Buffett?
5 kebiasaan yang buat
orang tetap miskin
Dilansir dari Watan, berikut ini lima kebiasaan yang buat
orang tetap miskin menurut Warren Buffett:
1. Suka berutang
Kebiasaan suka berutang adalah salah satu dari kebiasaan
yang membuat seseorang tetap miskin.
“Hal terpenting yang dapat Anda lakukan jika Anda berada di
dalam lubang adalah berhenti menggali,” kata Buffett.
Nasihat ini menggarisbawahi perlunya mengakhiri siklus
utang. Utang kartu kredit dan pinjaman konsumen menciptakan lingkaran setan di
mana bunga majemuk bekerja untuk merugikan, bukan memberikan manfaat.
Membangun kekayaan menjadi hampir mustahil ketika seseorang
membayar bunga kartu kredit sebesar 15, 20, atau bahkan 25 persen.
Setiap bulan, uang hasil jerih payah digunakan untuk
membayar bunga dan bukan untuk menabung atau berinvestasi, sehingga semakin
sulit untuk keluar dari lingkaran utang.
"Jika Anda membayar bunga utang sebesar 1 persen, hal
pertama yang akan saya lakukan dengan uang yang saya miliki adalah melunasi
utang tersebut,” tutur Buffett.
2. Tidak
mengembangkan kemampuan diri sendiri
Kebiasaan lain yang membuat seseorang tetap menjadi miskin
adalah mengabaikan investasi pada diri sendiri. Maksudnya, uangnya tidak
digunakan untuk pengembangan diri sendiri.
“Investasi terbaik yang bisa Anda lakukan adalah pada diri
Anda sendiri,” ungkap Buffett.
Dia mempraktikkan apa yang dia ajarkan. Di awal karirnya,
dia berinvestasi dalam kursus atau pelatihan berbicara di depan umum Dale
Carnegie.
Menurut Buffett, pelatihan berbicara di depan umum tersebut
dianggapnya sebagai titik penting dalam perjalanannya.
Berinvestasi pada diri sendiri melibatkan pengembangan
keterampilan yang meningkatkan potensi penghasilan melalui pendidikan formal,
sertifikasi profesional, atau pengembangan pribadi.
Mengabaikan pengembangan diri sering kali berawal dari
pemikiran jangka pendek. Namun, hasil dari pengembangan diri akan terakumulasi
dari waktu ke waktu, membuka pintu dan menciptakan peluang yang tadinya
tertutup.
3. Terlalu mengikuti
tren terkini dalam investasi
Buffett menilai, kebiasaan selalu mengikuti tren terkini
dalam berinvestasi juga bisa membuat seseorang akan tetap miskin sepanjang
waktu.
“Jadilah takut ketika orang lain serakah, dan serakah ketika
orang lain takut,” ucap Buffett.
Hal ini menyoroti bahaya “mentalitas kerumunan” yang sering
kali mengarah pada pembelian pada harga tinggi dan penjualan pada harga rendah.
Media sosial memperkuat tren ini, mendorong keputusan
finansial yang didorong oleh rasa takut ketinggalan (FOMO).
Tekanan untuk berinvestasi pada saham yang sedang tren, mata
uang kripto, atau kegemaran investasi terbaru dapat menyebabkan kerugian signifikan
saat “gelembungnya pecah”.
Kesuksesan Buffett berasal dari riset menyeluruh dan
pemikiran independen, bukan dari mengejar tren pasar jangka pendek atau
tips-tips populer.
4. Salah dalam
penganggaran untuk menabung
Buffett mengungkapkan salah dalam penganggaran untuk
menabung berpotensi mengakibatkan seseorang tetap miskin. Kondisi itu disebut sebagai
“penganggaran terbalik”.
“Jangan menabung apa yang tersisa setelah belanja.
Sebaliknya, belanjakan apa yang tersisa setelah menabung,” ujar Buffett.
Pendekatan ini melibatkan pengalokasian sebagian pendapatan
secara otomatis ke tabungan dan investasi sebelum masuk ke rekening giro.
Maka, seseorang dipaksa untuk hidup dari sisanya,
menciptakan jalur berkelanjutan untuk membangun kekayaan melalui penghematan
yang sistematis.
Hal tersebut kemudian memastikan menabung menjadi sebuah
kebiasaan, bukan hanya sebuah renungan.
Sepanjang kariernya, Buffett telah menunjukkan bahwa
menabung dan berinvestasi secara konsisten adalah cara yang paling dapat
diandalkan untuk membangun kekayaan.
5. Memiliki gaya
hidup tinggi
Seseorang yang mengikuti arah gaya hidup tinggi hingga
menjadi jebakan bagi dirinya sendiri, bisa membuatnya tetap miskin.
“Jika Anda membeli barang yang tidak Anda butuhkan, Anda
akan segera menjual barang yang Anda butuhkan,” tutur Buffett.
Meskipun menjadi salah satu orang terkaya di dunia, Buffett
masih tinggal di rumah yang dibelinya pada tahun 1958 dan mengendarai mobil
sederhana.
Ini bukan tentang kekurangan, tetapi memahami bahwa setiap
dollar yang dihabiskan untuk inflasi gaya hidup adalah uang yang tidak diinvestasikan
untuk masa depan.
Jebakan gaya hidup ini terwujud secara halus dalam bentuk
seringnya seseorang mengganti mobil, membeli gadget terbaru, atau tinggal di
rumah yang lebih besar dari yang dibutuhkan.
Seiring waktu, pilihan-pilihan ini mengurangi kemampuan
seseorang untuk membangun kekayaan nyata melalui investasi.
Pendekatan yang lebih berkelanjutan adalah hidup di bawah
kemampuan finansial, terlepas dari peningkatan pendapatan. (Kompas.com)



0 Komentar